Danau Tempe : Ikon Kabupaten Wajo | Komunitas Blogger Wajo

 

Danau Tempe : Ikon Kabupaten Wajo

May 18th, 2013 2 Komentar

Komunitas Blogger Wajo adalah komunitas yang memiliki tujuan khusus untuk memperkenalkan konten budaya Kabupaten Wajo kepada netizen (Pengguna Internet). Sesuai dengan tujuannya, baru-baru ini Komunitas Blogger Wajo menjalankan event yang bernama “Blogger Wajo Explore Budaya” dan bertajuk memperkenalkan tempat-tempat yang unik maupun tempat yang bersejarah yang ada di Kabupaten Wajo dengan cara mengunjungi tempat tersebut dan menjadikannya sebagai bahan postingan. Dan tempat pertama yang dikunjunginya yaitu Danau Tempe. Tetapi pada saat menjalankan event tersebut Komunitas Blogger Wajo juga memiliki event lainnya yang terletak di Gedung Johar. Jadi, hanya sebagian anggota Komunitas Blogger Wajo yang dapat berpatisipasi di event yang berjudul “Blogger Wajo Explore Budaya” karena anggota lainnya menjalankan event yang berada di Gedung Johar.

Komunitas Blogger Wajo memilih Danau Tempe sebagai tempat pertama untuk event “Blogger Wajo Explore Budaya” karena Danau Tempe adalah salah satu icon dari Kabupaten Wajo dan terletak di sebelah barat Kabupaten Wajo yang dapat dicapai menggunakan perahu motor yang dapat mengangkut 5 orang dengan biaya Rp.100.000. “Mangkuk raksasanya Ikan tawar di Indonesia” itu julukan untuk Danau Tempe oleh Presiden RI pertama, Soekarno pada saat meresmikan Masjid Raya Sengkang sekitar tahun 1950-an. Tidak salah jika kita menjuluki danau yang terletak di Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan ini dengan julukan “Mangkuk raksasanya Ikan tawar di Indonesia” karena Danau Tempe termasuk penghasil ikan air tawar terbesar di Dunia dan Pengekspor ikan terbesar di Asia. Danau Tempe memilki berbagai spesies ikan, yaitu ikan lele, ikan mas, ikan gabus, ikan bungo, ikan bete-bete, dan jenis ikan lainnya. Bahkan Danau Tempe memiliki spesies endemik dan konon di dasar Danau Tempe terdapat sumber makanan ikan yang tidak terdapat di tempat lain, yang mungkin dikarenakan Danau Tempe berada diantara dua lempeng benua yaitu lempeng benua Asia dan Australia.

Danau Tempe dapat dikatakan suatu tempat yang memiliki berbagai macam hasil penelitian dan sering dikunjungi oleh peneliti dari berbagai disiplin ilmu, seperti peneliti kebudayaan, peneliti geografi, peneliti sejarah, bahkan peneliti profesional. Peneliti tersebut datang dengan tujuan berbeda-beda, contohya peneliti geografi datang meneliti kondisi riil fisik Danau Tempe. Berbeda dengan peneliti geografi, peneliti kebudayaan dan sejarah meneliti adat atau kebiasaan masyarakat Danau Tempe seperti cara mereka bertahan hidup, bersosialisasi, dan spiritiual (cara beribadah). Tidak hanya peneliti, tapi wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal pun biasa berkunjung ke Danau Tempe. Seperti halnya dengan peneliti, para wisatawan juga mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Contohnya untuk bersantai, wisata pendidikan, bahkan ada yang datang untuk menikmati kekayaan alam (misalnya ikan) yang terkenal dengan rasanya yang unik dan berbeda dari tempat lain.

Ikan-ikan di Danau Tempe tidak hanya menjadi daya tarik wisatawan, akan tetapi Danau Tempe telah menjadi tempat nelayan untuk menggantungkan hidupnya, seperti nelayan menjadikan Danau Tempe sebagai tempat mata pencaharian, bahkan Danau Tempe telah menjadi sebagai tempat tinggal nelayan dengan cara menggunakan rumah terapung. Rumah terapung adalah sebuah rumah yang biasa ditinggali oleh nelayan dengan keluarganya dan rumah tersebut tersusun oleh bahan-bahan yang sangat sederhana seperti papan yang digunakan sebagai lantai dari rumah terapung, beberapa kain yang dijadikan untuk langit-langit, seng yang berguna untuk menjadi atap, dan sejejeran bambu atau dalam bahasa bugis rai-rai yang bermanfaat untuk membantu rumah tersebut untuk terapung, rumah terapung ini juga dibuat di daratan dan ditarik ke pertengahan danau menggunakan perahu. Uniknya lagi rumah terapung memiliki tiang rumah yang tidak mencapai dasar danau agar rumah terapung dapat berpindah-pindah di tempat yang memiliki ikan yang banyak dan memudahkan rumah terapung untuk di tarik menggunakan tali dan perahu dan bermanfaat untuk memudahkan nelayan menangkap ikan dengan peralatan yang telah disediakan di rumah terapung tersebut. Nelayan yang bertempat tinggal di Danau Tempe atau biasa disebut Manusia Rai, Manusia Rai ini dapat dikatakan mereka beraktivitas di rumah terapung layaknya mereka beraktivitas di daratan, contohnya saja mereka dapat mencuci, makan, bersosialisasi dengan masyrakat lainnya, bahkan adapun nelayan yang memiliki hewan peliharaan seperti seekor ayam. Karena di Danau Tempe tidak memiliki layanan untuk menjenjang pendidikan, maka nelayan-nelayan tersebut harus menitip anak-anaknya di beberapa rumah yang ada di daratan untuk menambah ilmu pengetahuan anak mereka.

Rumah terapung atau perkampungan Manusia Rai memang memiliki keunikan tetapi untuk mencapainya kita membutuhkan waktu sekitar setengah jam dengan melalui sungai walannae dan di perbatasan antara danau tempe dengan sungai walannae terdapat rumah terapung yang dibuat oleh pemerintah, tapi sayang rumah itu cuman berada dipinggir sungai saja bukan di dalam danau tempe dan rumah terapung itu juga dapat dikatakan tidak layak pakai dan akan diperbaiki apabila ingin digunakan. Setelah melalui rumah terapung milik pemerintah kita akan melalui pulau kucing, yang dimana pulau ini dulu dijadikan sebagai tempat untuk mengasingkan kucing yang nakal dan sehingga dinamakan dengan pulau kucing, namun sekarang kucing-kucing yang ada di pulau kucing telah puna. Bukan hanya rumah terapung milik pemerintah dan pulau kucing yang harus dilalui, tetapi kita juga akan melalui sekumpulan eceng gondok yang telah menutupi danau tempe sekitar 75% dan karena pertumbuhan dari eceng gondok yangg terlalu cepat sehingga hanya dalam beberapa bulan sudah dapat menutupi lebih dari 50% permukaan danau dan hal itu akan menyusahkan nelayan untuk mencari jalan pulang dan kami telah membuktikannya waktu kami ingin kembali. Eceng gondok memang merugikan, tapi mungkin lebih kepada masyarakat sekitar, serta pemerintah yang belum mengetahui bagaimana cara untuk mengelolah tumbuhan tersebut, sehingga tidak terlihat seperti tumbuhan pengganggu maupun tumbuhan perusak yang dapat membuat danau tempe perlahan menjadi dangkal dan untunglah masyarakat masih memiliki usaha untuk membangun tiang penahang eceng gondok agar eceng gondok tidak naik ke daratan pada saat banjir. Bukan tumbuhan eceng gondok saja yang akan kita lalui atau dapatkan di Danau Tempe, tetapi kita juga dapat melihat bunga teratai yang tersusun rapi dan indah. Itulah yang harus kita lalui untuk mencapai perkampungan manusia rai.

Itulah sedikit tentang salah satu ikon Kabupaten Wajo. Mungkin Anda tertarik ke Danau Tempe karena kekayaan alamnya ataupun keunikan yang ada di Danau Tempe.

Andi Rizal Zulfachri S

I’m Blogger Wajo

Facebook Twitter Google+ Skype   

 
Explore Budaya-
 
 

2 Komentar pada “Danau Tempe : Ikon Kabupaten Wajo”

  1. raafi says:

    semoga danau tempe bisa mengangkat nama kab wajo di tingkat internasional sehingga wajo bisa lebih dikenal sama dengan pulau bali

    [Reply]

  2. raafi says:

    tingkatkan terus tulisan n bakat yang kita punya untuk ical

    [Reply]

Silahkan berkomentar disini:

 
Copyright © 2012 Komunitas Blogger Wajo 114 queries in 0.518 detik.
eXTReMe Tracker